Kamis, 03 Juli 2014

Untukmu Aku Bertahan


Tenanglah kekasihku
Ku tahu hatimu menangis
Beranilah dan percaya
Semua ini pasti berlalu

Meski takkan mudah
Namun kau takkan sendiri
Ku ada di sini

Untukmu aku akan bertahan
Dalam gelap takkan ku tinggalkan
Engkaulah teman sejati, kasihku
Di setiap hariku

Untuk hatimu ku kan bertahan
Sebentuk hati yang ku nantikan
Hanya kau dan aku yang tahu
Arti cinta yang telah kita punya

Beranilah dan percaya
Semua ini pasti berlalu
***
Aku tak pernah bisa menyalurkan berita hati melalui tulisan indah dengan rangkaian kata indah. selalu gagal untuk yang kesekian kali. entah mungkin kali ini aku akan berhasil atau tidak. aku hanya mengikuti alur yang diciptakan, yang membuatku terus menerus mencari huruf untuk dikumpulkan dijadikan satu dalam ruang berharga yang akan menjadi emas tanpa perak dengan berlian ditengahnya.
***
3 hari lalu.......
"Aku juga tidak tahu mengapa semua jadi seperti ini. aku menyayanginya, Mo. tapi aku juga menyayanginya." apa-apaan ini. perasaan tak tentu dari seorang sahabat.
"Kamu harus jujur. kamu harus jujur kepada mereka berdua." aku menanggapi.
"Apa kurang jelas yang kuceritakan, Mo? aku takut menyakitinya. Kekasih macam apa aku ini?" dia masih menangis dalam pelukanku.
"Aku mengerti, Rey. Sangat mengerti. Kau mencintai kekasihmu tetapi kau juga merasakan hal yang sama pada dia kan? katakan. itu menurutku, atau kau akan lebih menderita." dia terdiam. entah apa yang dipikirkan. antara ingin menuruti saranku atau memang tak ada kata yang perlu dikatakan.
***
2 hari lalu......
"Aku tahu semua, Rey. Bahkan sudah tahu tentang apa yang ingin kau katakan. aku tak apa." Fa menanggapi.
"Ehm, maafkan aku, Fa. maafkan aku." sahabatku masih saja merasa dirinya salah besar.
"Aku mengerti. kau wanita yang baik, tak mungkin ada yang mengalihkan pandangannya darimu, Rey."
Fa. seorang lelaki yang dia sayangi sejak 4 tahun lalu. yang bayangnya tak bisa ia lupakan meski saat ini ia adalah milik seseorang. bukan, Fa. bukan.
***
hari ini........
sahabatku berlari kearah ku yang sedang asyik tenggelam dalam kisah romantisme dalam novel yang baru saja kubeli siang tadi. mengambil tempat duduk disampingku. aku memandangnya detail. kemeja lengan panjang, celana jeans berwarna biru yang dia sayangi. 
"Fa sudah tahu, Mo. aku takut jika harus memberitahu, Revo."
"Percaya padaku, Rey. katakan padanya." aku melihat sosok yang sedang kami bicarakan dari kejauahan. sedang melambaikan tangannya. sahabatku, Rey tersenyum. aku mengenal senyum itu, senyum pahit yang ia ciptakan.
aku pamit pergi meninggalkan mereka berdua, memberi mereka ruang agar tak merasa sempit atas keberadaanku.
"Vo, i'm sorry. aku musuh berbahaya." kulihat dari kejauhan sahabatku memulai pembicaraannya. aku berlalu pergi. aku tahu dia sudah dewasa untuk masalahnya.
***
3 hari lalu..........
Aku mendapati sahabatku berjalan terengah-engah, dengan tumpukan buku kuliah yang dia peluk erat mendekap di dadanya. seperti biasa, dengan rambutnya yang ikal diikat kebelakang seperti kuda. kaos biru yang pernah kuberikan saat ulangtahunnya ke 18 tahun dan ternyata masih muat untuknya diumur 20 tahun. 
"Aku ingin bercerita...." kau berkata tanpa mengatur nafas.
"Pelan-pelan. baiklah, silahkan. aku akan diam saat kau bercerita."
"Kau tau aku milik siapa saat ini? aku bimbang, Mo. begini, belakangan aku dekat dengan beberapa teman lelaki. hanya sekedar teman. aku tak tahu jika mereka menganggap kebaikanku ini sebagai harapan. aku menanggapinya hanya karena mereka adalah temanku. tidak lebih, Mo. pertama, teman lamaku tanpa sebab menyatakan perasaannya, aku tak tahu apa maksudnya. kedua, teman satu fakultas kita, juga menyatakannya padaku. ketiga, tetangga nenekku bahkan memintaku lebih dari sekedar teman. terakhir, kakak kelas angkatan kita juga sedang berusaha mendekatiku. aku sama sekali tak bahagia dengan semua ini, Mo. aku lelah. salah satu dari mereka memaksaku untuk menerimanya. sampai beberapa kali. aku tak bisa terus menerus berkata tidak, karena apa? karena aku tahu dia akan tetap datang untuk memintaku. kukatakan aku mau. aku terpaksa, Mo. sungguh! tapi disatu sisi, aku sangat menyayangi Revo kekasih 2 tahun-ku. dan kau juga tahu, aku juga tidak bisa melupakan Fa, cinta 4 tahun lamaku. gila sekali aku, Mo." dia bercerita panjang lebar.
"Jadi, intinya... kau menyayangi Revo tapi kau juga masih menyayangi Fa?" aku berani menanyakan hal pribadi ini.
"Aku juga tidak tahu mengapa semua jadi seperti ini. aku menyayanginya, Mo. tapi aku juga menyayanginya." apa-apaan ini. perasaan tak tentu dari seorang sahabat.
"Kamu harus jujur. kamu harus jujur kepada mereka berdua." aku menanggapi.
"Apa kurang jelas yang kuceritakan, Mo? aku takut menyakitinya. Kekasih macam apa aku ini?" dia masih menangis dalam pelukanku.
"Aku mengerti, Rey. Sangat mengerti. Kau mencintai kekasihmu tetapi kau juga merasakan hal yang sama pada dia kan? katakan. itu menurutku, atau kau akan lebih menderita." dia terdiam. entah apa yang dipikirkan. antara ingin menuruti saranku atau memang tak ada kata yang perlu dikatakan.
***
hari ini.....
"ada apa, Rey?" Revo bertanya.
"aku tak sengaja menyakitimu. mungkin sejak awal kita bersama. maafkan."
"maksudmu?" Revo penasaran.
Terlihat sekali gugup di wajah Rey. Pucat. dia harus mengatakan sejujurnya apa yang dia rasakan. tanpa jeda dan tanpa kisah yang ditambahkan atau dikurangi. harus benar. agar tak ada yang tersakiti kemudian.
"aku masih menyimpan sebuah rasa pada Fa. aku mengkhianatimu kemarin dengan teman lamaku. aku bukan kekasih baik hati, aku musuh berbahaya, Vo." Rey menangis.
"aku merasakannya Rey. aku tau akan rasamu pada Fa. tapi aku benar-benar tak bisa bayangkan kau dengan yang lain, siapalah itu teman lamamu."
"maafkan aku, Vo......." kalimat itu menggantung dari bibir mungil Rey.
"kau ingin apa saat ini?" Revo bertanya.
"aku hanya ingin jujur dan tak ingin menyakitimu lagi, Vo."
"apakah kau menyayangiku?"
"Sangat" jawab Rey mantap.
"tapi, maaf Rey. aku tak bisa lanjutkan jika hanyasakit yang kudapatkan."
Revo berlalu dengan mudahnya. tanpa meminta penjelasan pada Rey yang masih diam mematung di kursi yang tadi kutempati. padahal, pagi tadi masih kulihat dia sedang bercanda dengan Revo dihalaman depan kampus.
***
esok hari........
"aku tak bisa...."
"apa maksudmu? kemarin kau iya-kan lalu sekarang kau putus-kan?"
"sudah kukatakan dari awal aku tak bisa, bukan?" Rey emmbantah.
"ah, kau begitu mudahnya katakan itu. aku yakin kau akan dapatkan karma serupa dengan apa yang kurasakan."
berakhirlah hubungan Rey dengan teman lamanya itu. tapi entah apakah yang masih ia rasakan.
***
2 hari kemudian......
"sudah kuselesaikan semuanya, Mo. aku sedikit lega." dia tersenyum.
"sedikit?" aku bertanya.
"ya. sedikit, Mo. belum tuntas jika aku masih rasakan bimbang."
"siapa? Fa?" aku menebak.
"kau tahu." dia menunduk. seperti biasa.
"dia itu untukmu, Rey. percayalah."
***
satu bulan kemudian..........
"4 tahun aku menyukaimu tanpa berani menyatakannya, kubiarkan hubungan kita menggantung hingga kau jatuh pada yang lain. tapi, takkan kubiarkan kau menghilang lagi dari peredaranku, Rey."
"Kau serius, Fa?" mata sahabatku berkaca-kaca tak terbendung.
"Ya. aku terlalu menyimpan gengsiku untukmu. tapi kali ini, kulenyapkan apa yang kutakutkan, aku tak mau kehilangan medanku untuk kesekian kalinya."
Aku jadi ingat bagaimana 4 tahun lalu awal mereka berkenalan. sama-sama malu. tapi akhirnya mereka menjadi saling dekat. saling menyemangati. mereka sama-sama mendapatkan IPK tertinggi yang luar biasa. aku tak menyangka sebelumnya. dengan siapa-pun Rey, Fa selalu ada. menjadi teman bertanya oendapat, bercerita apa saja, teman ngobrol malam yang asyik. 
aku juga ingat saat Rey sakit 4 tahun lalu. badannya yang kejang-kejang seketika membuat Fa sangat ketakutan. Fa segera menyusul dengan kecepatan tinggi ke rumah sakit. sesampainya dirumah sakit, Fa menemukan Rey tergeletak lemah. kuingat sangat percakapan mereka.
Fa : Kau baik-baik saja, Rey?
Rey : Ya. seperti yang kau lihat.
Fa : Jangan buat aku khawatir yang berlebih lagi. kau tahu? aku tak mempedulikan keselamatanku saat menyusulmu kesini.
Rey : terimakasih, Fa. seharusnya kau tak perlu seperti itu.
Fa : kau bilang terimakasih? seharusnya kau katakan maaf karena membuatku khawatir yang tak biasa. sekarang kau istirahat. 
lalu, kulihat mata mereka saling adu pandang. mulai sejak saat itu kurasakan mereka berdua saling mencintai namun tak pernah berani untuk mengungkapkan. dan kini, kulihat sendiri Fa menyatakan perasaan 4 tahunnya. masih dengan tatapan dan adu pandang yang sama. berisi cinta dan kasih yang tak pernah pudar sedikitpun.
"Maukah kau menjadi......kekasihku?" Fa berani menyatakannya.
"kekasih, Fa?" Rey kaget tak percaya.
"Oh maaf. bukan. calon istri seumur hidupku. boleh kuulangi? maukah kau menjadi seorang istri-ku?"
"Aku mau, Fa. tanpa berpikir panjang Rey mengiyakannya.
***
3 tahun kemudian........
Fa dan Rey menikah diusia mereka yang sama-sama 23 tahun namun sudah sangat sukses. hebat. yang kutahu, cinta mereka suci, putih. tanpa noda. bagaimana tidak? mereka tidak pacaran. hari itu, Fa hanya menyatakan perasaannya dan berjanji menikahi Rey saat sudah sukses nanti. dan Rey juga berjanji tak akan bermain-main lagi dengan cinta. tak ada pegangan tangan, tak ada pergi berdua, tak ada hal-hal negatif yang mereka lakukan. mereka resmi berpegang tangan sejak hari ini. ya hari pernikahan mereka.
Happy Wedding for my Bestfriend;*

Selasa, 24 Juni 2014

Sabar



            Tak bersama bukan berarti tak cinta. Bersamapun bukan berarti saling cinta.
            Dosa jika aku terus menerus membohongi sebuah hati, sebentuk cinta yang telah dia berikan seutuhnya untukku. Aku bersama namun mencintai setengah hati. Aku tak bersama tapi mencintai dengan sepenuh hati. bagaimana bisa? Aku, dia, dan kamu. Dan aku beperan sebagai aku. Aku yang masih labil menentukan hati.
            23.45
            “Mataku tak dapat dipejamkan, silahkan kau duluan. Tak lama lagi aku akan menyusulmu.” Ucapku pada kekasihku.
            “Baiklah, segerakan kau istirahatkan saraf-sarafmu. Jangan biarkan ia terus bekerja memenuhi maumu. Selamat malam bidadari tercintaku, sampai jumpa dalam mimpi. Aku mencintaimu.” Kata Fap, cintaku.
            Rasanya tak mungkin jika aku terus-menerus memikirkan seseorang yang sama sekali tak peduli sedikitpun padaku. Karena ada seseorang lain yang jauh lebih mencintaiku secara nyata dan terang-terangan. Aku tak ingin menghadirkan luka yang tak biasa. Yang kutahu, cinta hanya hubungan antara dua jiwa. Dan kini, yang kulakukan pada diriku sendiri adalah menjamah rindu lain yang harus kuhadiri. Aku benar-benar tak ingin menjadi musuh yang berbahaya, meski aku bukan lagi kekasih yang baik hati.
            Aku tenggelam dalam kisah masa lalu saat ia sudah mulai terpejam pulas dialam bawah sadarnya, menikmati mimpi yang mempersilakanku untuk memasukinya. Tetapi bodohnya, aku lebih memilih membuka kenangan yang kukunci rapat dan kubuka jika aku mulai merindu.
            Aku rindu kamu….. ucapku dalam hati.
            Kupilih melihat status-statusmu di media sosial. Terpampang fotomu bersama wanita baru pilihanmu yang kutahu pasti lebih baik dariku. Kulihat komentar-komentar dari teman-teman terdekatmu yang pernah juga kukenal saat aku masih milikmu. Dan kau memberi nomor telefonmu pada teman-temanmu, aku segera merogoh handphone ku untuk mencatatnya. Pukul 00.12 di jam dinding kesayanganku, kucoba menghubungimu melalui sebuah pesan singkat.
            Day     : Gen?
            Gen     : Yes, who?
            Day     : Really? Are you Gen?
            Gen     : Yes. What’s up?
            Day     : I miss you…………
            Gen     : Hey, who are you?
            Day     : Your dear. Aku tahu kau masih mengingatku.
            Gen     : Sorry, are you Day? But, you’re not my dear. You have a boyfriend now.
            Day     : I know, I have a boyfriend. But I miss you.
            Gen     : Please, Day. Aku sudah tak ingin mengingatmu lagi. I’m scared.
            Day     : Why? Aku tahu kau juga masih menyayangiku.
            Gen     : Yes, I still loving you. But, you know lah…
            Day     : Okay, sorry. Aku ingin jadi temanmu. Just a friend, tidak lebih.
            Mulai dari sini, aku kembali berhubungan dengan Gen, mantan pacarku. Dia, sangat spesial untukku. Tapi Fap, juga sama spesialnya. Dan aku merasa terperangkap dalam kumpulan sobekan kisahku dengan Gen. apalagi saat aku tahu bahwa Gen memiliki perasaan yang masih sama denganku. Tuhan, jangan Kau biarkan perasaan rindu ini menjalar kembali menjadi cinta.
            Yang kutahu dari pengakuan Gen, dia sudah berpisah dengan kekasihnya. Dia berkata bahwa hubungannya sangatlah susah didalami. Dia tak bisa mencintai pacarnya dengan sepenuh hati, seringnya kekerasaan fisik saat mereka bertengkar, dan……Gen mengaku masih sering mengingatku. Aku juga! Kataku dalam hati saat Gen mengakuinya.
            Fap      : What’s wrong, dear? You has change.
            Day     : Ha? Just your feeling, Baby. I’m okay.
            Fap      : Tapi, aku tidak yakin. Kamu sangat berubah hari ini, ada yang salah denganku?
            Day     : Uhm, I think no. I just…. I just …… Uhm, I think I miss you so much. Sudah beberapa hari ini tidak bertemu.
            Fap      : Oh dear, I miss you for sure too.
            Bohong. Aku bersama Fap tapi seakan aku tidak bersama Fap. Akh! Aku semakin tidak mengerti tentang apa yang aku alami. Padahal aku tidak benar-benar merindunya. Yang dia rasakan aku berubah, benar adanya. Aku semakin terus memikirkan Gen. karena aku semakin sering mengadakan komunikasi dan membahas masa-masa indah yang sudah kami lewati selama 2 tahun lamanya.
            Aku jujur pada Gen bahwa aku tidak sepenuhnya mencintai Fap. Gen menyatakan, bahwa dia yakin kalau kemanapun aku dan dia pergi, dengan siapapun kami saat ini, pasti kami berdua akan kembali. Aku kembali pada Gen dan Gen kembali padaku. Dia juga berharap agar tak menutup kemungkinan kita bersatu kembali, aku juga menginginkan hal yang sama, kataku dalam hati. Gen terlalu spesial. Kurasa tak ada yang bisa menggantikannya dihatiku, sekalipun dia adalah Fap.
            Gen     : I love you. Aku tahu kamu juga mencintaiku.
            Day     : Yes, true. Aku juga mencintaimu, tapi aku tidak bisa melepaskan Fap sekarang.
            Gen     : Never mind. I know about your heart, your feeling. Aku mengerti. Sabar. Aku tahu kau pasti kembali padaku. Ini semua tak akan selamanya, karena sebenarnya kau tahu sesungguhnya aku.
            Day     : Dan aku percaya, aku yang paling kau cinta. Aku yang paling kau mau.
            Gen     : Rahasiakan aku sedalam-dalamnya cintamu.
            Day     : Selamanya di hidupmu, aku kekasihmu.
            Meski aku tahu, suatu saat aku harus mempertanggungjawabkan dosaku. Aku sanggup. Biarkan aku menikmati dulu dosa indahku. Mencintaimu dan mendustainya. Karena ini tak akan selamanya, hanya sementara kuharus dengannya, kuharus bersamanya kini. 

Minggu, 15 Juni 2014

SHY

Aku meredam amarah atas kegelisahanku terhadap angka-angka dan rumus-rumus yang diciptakan si Newton, Bernoulli, Pascal dan yang lainnya itu. Selalu saja hadir untuk membuat masalah, sepertinya mereka tak ingin sekali aku duduk manis memainkan gadget-ku atau membaca novel terbaru yang ingin sekali kubaca. mereka benar-benar tidak mengerti suasana. Aku sudah belajar maksimal, tetapi tetap saja hasilnya nihil untuk tidak mendapatkan "REMEDIAL" dimata pelajaran dari Gay Lussac dan kawan-kawannya itu.
"Ada kesulitan?" Aku sedikit menganga, tiba-tiba ada kau yang sama sekali tidak kukenal. Muncul disaat yang benar-benar kurasa tepat.
"Ah, ada. Bab Fluida. Aku merasa sudah menguasainya, tapi........ tetap saja nilaiku tak jauh dari angka 4." Jawabku malu menyebut nilai yang tak berperikemanusiaan itu.
"Oh ya? Berarti kau belum menguasainya."
Lalu kau memulai menjelaskannya padaku secara detail dan dengan sedikit candaan agar aku tidak gugup. Dan benar, aku sama seklai tidak gugup dan sangat cepat akrab denganmu yang membuatku lebih dari sekedar mengerti tentang bab Fluida yang sangat kubenci itu.
"Kau......siswa disini juga?" Tanyaku padanya mengenai keberadaannya di sebuah bimbel ini.
"Menurutmu?"
"Ehm, sepertinya ya. Kau dari SMA mana? Aku dari tadi menunggu guru fisika pengganti untuk menjelaskan bab ini. Tapi belum datang. Kak Farah sedang sibuk mengajari kelas XII. Jadi, terpaksa aku harus menunggu guru pengganti ini sangat lama." Aku berkeluh kesah panjang lebar padamu.
"Oh ya? Wah, memang orang Indonesia itu menyukai keterlambatan." Jawabmu saat itu.
Belum sempat aku mengucapkan terimakasih, kau sudah dipanggil salah satu kakak tentor. Kau.......memang tidak sempurna. Tetapi kedatanganmu itu menyelamatkanku. Kau juga belum sempat menyebutkan nama sekolahmu.
Aku berjalan gontai menuju kelasku di bimbel ini, sedikit terlambat karena tadi harus konsultasi dan lama menunggu guru.
"Assalamualaikum." Aku membuka pintu. dan.....kutemukan ada dirimu disitu. Aku mengambil tempat duduk paling depan.
"Waalaikumsalam." Jawab teman sekelas serempak.
"Baiklah, kita masuk ke Teori Kinetik Gas. " Itu katamu.
Dan baru aku tahu bahwa kau salah satu tentor disini. aku sempat malu tapi juga senang karena kau mengajar lagi dikelasku. Aku sempat mendapat ledekan dari teman-teman karena kau selalu menatapku heran karena aku yang lebih dulu menatapmu keheranan.
"Maaf, Kak. Aku tak tahu kau tentor disini." Kataku saat istirahat.
"Tidak apa-apa. Husst tidak usah keras-keras. Aku seumuran denganmu. Tapi sudah jadi mahawiswa karena program aksel yang dijalankan sekolahku dulu."
"Oh, maaf. Maaf sekali lagi."
Ah. Aku menikmati malu ku ini. Malu yang bergelayut manja tak mau pergi menuruti keinginan hati. Malu yang tak kunjung usai meski kini aku sudah pergi.

Jumat, 13 Juni 2014

Badai

13 Oktober 2013
Pertemuan yang memang belum pernah kubayangkan, setelah hampir 8 tahun tak lagi ada kabar atau berita yang kau titipkan. tiba-tiba, saat ini kau ada didepan mataku, dihadapanku. meski aku benar-benar tak tahu maksud dari ketidak-sengajaan ini.
"Uhm, kemana saja selama ini?" Tanyamu.
"Aku menuju tujuan hidupku." Lalu kita tertawa bersama.
"Kau ingat kapan terakhir kali kita bertemu?" Kau memulai nostalgia itu terlebih dahulu.
"Terakhir? Perpisahan SMP?"
"Right. Kau sangat berubah, Day. Terakhir kali aku melihatmu menggunakan gaun hitam dengan renda dan pita bagian atasnya, high heels dan bandana warna senada. Kita tidak sempat foto bersama, karena kau sangat sibuk berfoto ria dengan teman-temanmu." Itu katamu, padahal kukira, kau-lah yang sangat sibuk dengan aktivitasmu dengan teman-temanmu kala itu yang hadir sebagai alumni.
"Kau juga berubah. Jauh. dulu kau pendiam. ternyata sekarang jauh lebih banyak bicara daripada aku."

***
10 Oktober 2013
"Hei, Kau day?"
"Yes, Are you Badai?" Aku tersentak kaget. ada dirimu atau bayangan dirimu yang tak kuketahui kebenarannya. tapi kurasa itu benar-benar kau. Badai.
"Iya. Aku Badai."
"Maaf, aku tak bisa lama-lama. Ada jadwal meeting hari ini dengan client. Aku duluan, bye!" Aku melangkah pergi meninggalkanmu di lobby tempat kerjaku.

***
13 Oktober 2013

Sender : 0819765xxx
What about some tea? i'm waiting at the crossroads!
Badai.

Ini rasa kagetku yang kesekian kali. pertama karena bertemu dengannya di lobby tempat kerjaku, kedua karena dia mengirimiiku sms. dapat darimana nomor handphone-ku?
aku berjalan melewati jalanan yang tidak sama sekali bisa dikatakan bising, menyusuri sudut kota mencari tempat yang dimaksud. Finally, aku sampai.
Dia sudah menunggu ditempat favoritnya, pojok ruangan.
"Hai, maaf aku terlambat. baru kubaca message-mu satu jam setelah kau mengirimnya."
"Nevermind. Pesan?"
Aku memanggil waiters didepanku.
"Hot tea satu, french ries satu." Pesanan biasaku.
"Bagaimana?" tanyamu mencurigakan?
"Huh? apanya yang bagaimana?"
"Ohaha, tidak Day tidak."

***
23 Juli 2005
Ibu memintaku mampir kerumah temannya diperumahan dekat sekolah yang akan kulewati pulang nanti. Tante Maya. Yang kutahu, mereka sudah berteman sejak lama. Saling mengunjungi, berlibur bersama dan melakukan aktivitas lainnya bersama-sama. Sayang, tante Maya belum menikah sampai saat ini. Dia tinggal sendiri dan hidup sebagai wanita karir yang sukses.
Lumayan sering aku mengunjungi rumah tante Maya, tanpa ibu minta pun terkadang aku menyempatkan diri mampir jika tante Maya ada dirumah. Aku juga biasa menceritakan pengalaman pribadiku padanya.
"Tante, Day pamit ya. Takut kesorean, nanti Ibu khawatir. Assalamualaikum, Tante."
"Oke sayang, Waalaikumsalam. Hati-hati." Katanya setelah mencium keningku.
Hampir semua tetangga tante Maya mengira bahwa aku ini anaknya, alasannya karena wajah kami berdua lumayan mirip. Ibu sempat mengambek karena hal ini. Lucu.

"Day......" Kudengar teriakan seorang lelaki.
"Ya? Ehm, sebentar. Kau......... Badai?" Aku menebak.
"Yes, You're right. Can I ask ur number?"
"Uh-huh? Nomorku?"
Aku tidak mengenal lelaki yang berada dihadapanku saat ini. Hanya sekedar tahu, bahwa dia kakak 3 angkatanku. Dia sering kesekolah dan tetangga tante Maya.
"Untuk apa?" Tanyaku.
"Untuk kusimpan saja, boleh?"
"Maaf. Tidak. Mungkin lain kali. Maaf aku harus pulang, Kak Badai."
Kulajukan sepeda motor yang kukendarai. aku khawatir ibu mencariku karena aku tidak biasa pulang sesore ini. Mungkin aku terlalu asyik menemani tante Maya menonton film romance terbaru yang baru dia beli.

***
"Day, for the second time. Can I ask ur number?" Aku duduk dikantin sekolah. Tiba-tiba lelaki ini berada dibelakangku.
"For what?"
"Akh! Please, don't ask me anything."
"Uh, Okay." Aku menyerah. menyerahkan selembar note dengan nomorku didalamnya.
Benar-benar tidak mengerti. Lalu ia pergi. tanpa mengucap terimakasih atau hal lainnya.
"Day, jangan sama dia. Dia tidak baik. Kau tahu? His ex is everywhere." Inna, sahabatku turut andil dalam hal ini.
"Hah? Aku juga tidak memiliki rasa apa-apa, In." Aku menyendok lagi bakso berkuah yang sudah kutambahkan kecap dan sambal itu.
"Ya, Tidak hari ini. But, just look at tomorrow or the day after."

***
23 September 2005
"So, Will you be my heart?"
"Huh? Are you serious?"
"Ya. Please say yes." Kau sedikit memaksa.
"Okay, i will."
"So, don't call me "Kak" again. Just my name. Badai."

***
Usia hubunganku kini sudah berjalan satu bulan. Masih belum ada masalah. Karena menurut banyak orang, pada usia hubungan yang masih baru belum bisa dirundung masalah.
Badai mengajakku pergi ke bukit disamping desa, tidak berdua. ber-enam dengan teman-temannya. Aku mengiyakan karena aku sangat menyukai alam. Apalagi, 2 diantara temannya juga mengenalku.
Kami berangkat jam 05.00 pagi, dan sampai diatas bukit 3 jam setelahnya.
"Mau berpencar? Aku ingin kesana dengan Ray."
Akhirnya kami ber-enam berpencar. Aku dan Badai tetap ditempat, diatas bukit sambil melihat pemandangan yang memang jarang sekali kami lihat.
"Indah...." Kataku.
"Iya, sepertimu." Kau menggombal.
"Minggu depan, aku sudah menjadi anak SMA dan kau kuliah. Usia kita terpaut jauh sekali." Aku memulai.
"Jauh? hanya berbeda tiga tahun. Apa salahnya?" Kau menenangkan tanpa mempermasalahkan.
"Kau terlalu tua." Aku meledek.
"Jadi, kau tak suka dengan yang tua?"
"Kenapa kau menyukaiku?" Aku mengalihkan, pertanyaan yang telah lama bergelayut dipikiranku.
"Tanpa alasan. Dan aku tak mau dengan alasan, karena saat aku mencintai atau menyukai dengan alasan, dan saat alasan itu hilang, maka cintakupun hilang." Kau merangkai kata-kata itu.

***
3 bulan, waktu yang lumayan singkat untukku mengenal Badai setelah peresmian hubungan kami. Dia memang selalu meluangkan waktunya untukku. Dia juga selalu mengenalkanku pada teman-temannya, membanggakanku. Meski terdengar berlebihan. Dia juga selalu mengundangku untuk menonton pertandingan basket yang sedang dia ikuti. Pernah suatu kali, saat dia sedang mengikuti lomba basket. Dengan tubuh yang berkeringat sangat banyak. dia menghampiriku dipinggir lapangan, memelukku tanpa meminta izin.
"Day, aku tidak kuat lag. Dadaku sesak, Day." Katamu seraya memegang dadamu masih dalam pelukanku. Aku yang panik langsung meminta tolong pelatihmu untuk membawamu kerumah sakit.
Asma-mu kambuh. itu kata dokter. Kau terlalu banyak berlatih tanpa memperhatikan kondisimu. aku bahkan tak mengerti kenapa kau seperti ini.
Tapi, tak lama setelah itu, kau sudah kembali pulih.

7 hari setelah kepulanganmu dari rumah sakit.
Aku tak menghubungimu sejak seminggu lalu. Aku disibukkan dengan tugas-tugas dan persiapan ulangan semester. Aku juga tak tahu kabarmu setelah kau pulang dari rumah sakit. Pesan singkat darimu bahkan tak sempat kubalas karena kesibukanku, tidurku juga sangat minim. Padahal, ini baru SMA.
Sampai akhirnya, saat aku sedang melakukan observasi dirumah warga, kau menelponku.
Badai : Kau dimana? Tak ada kabar? Pesanku tak kau balas? Kau ingin putus? Tolong jangan seperti ini caranya, Day.
Day : Oh maafkan aku, Badai. Aku sedang sibuk. Aku sedang ada dipinggir pantai timur untuk melakukan observasi pada warga. Bisa kita selesaikan urusan ini nanti?
Badai : Baiklah. Temui aku besok malam ditempat saat aku memintamu.
Day : Baiklah.

***
Kau sudah menungguku di tempat janjian kita, dengan kaos biru dan rambut cepak seperti biasanya.
"Maaf lama menunggu, aku baru saja pulang dari pantai timur. Langsung kesini." Aku masih merapikan tas dan barang-barang yang kubawa.
"Day, maaf. Aku tak lagi bisa meneruskan hubungan kita." Itu katamu sambil menunduk.
"Huh? kenapa? Karena aku tak menghubungi selama seminggu?"
"Ya, Day. seharusnya kau memberi kabar dan menjelaskan padaku bahwa kau benar-benar sibuk dan tak ingin diganggu. maka, aku akan mengerti. Tapi, jika seperti ini, aku tak bisa, Day."
"Maaf Badai. Baiklah jika itu yang kau inginkan. aku mengiyakan permintaanmu, karena aku tahu bagaimana berada diposisimu, bukan karena aku sengaja melakukan hal ini agar cepat-cepat putus. setidaknya, kita masih bisa berteman, bukan?"
Hubunganku dan Badai berakhir diusia 3 bulan. Akh. Pacaran macam ini? Sangat sebentar.

***
13 Oktober 2013
"Hahaha, lucu sekali ya cerita lalu kita, Day." katamu.
"Ya, padahal aku benar-benar sangat sibuk saat itu. tapi kau tak mau mengerti. ya itu juga salahku aku tak lebih dulu menghubungimu."
"Day......"
"Ya?"
"Would you start again our relationship?"
aku diam. aku tidak ingin menyakiti perasaanmu. karena saat ini, 2 bulan lagi aku akan melangsungkan pernikahan dengan seorang lelaki yang sudah 3 tahun menjadi kekasihku. maafkan aku Badai. aku memang masih sering mengingatmu. bagaimana tidak? kau orang pertama yang menempati sebuah hati yang kini telah ditempati dengan yang lain nya.
kau berharap.
"Sorry, i hope.... you'll come to my wedding ceremony 2 months."
Dan kau mulai tersenyum pahit meski harus pasrah menerimanya.

Rabu, 11 Juni 2014

BATAS SADARKU


BATAS SADARKU.
            Darimana aku harus memulai?
            Perasaan ini tak pernah dapat tersalurkan dengan baik. Bagaimana bisa? Jika tak ada yang mengerti. Diriku sendiri saja bahkan tidak sama sekali mengerti. Saat kau sudah merasa lelah dengan semuanya? Dengan kepura-puraan tegar yang kau miliki? Ketika batas sadarmu sudah mendekati gila?
            Sepertinya itu aku. Saat malam-mala kau menangis tanpa ada yang mendengar. Berbicara sendiri mengadu pada Tuhan?
            Saat kau lelah dengan apa yang kau cipta sendiri?
            Aku begitu.
            Disaat orang lain hanya bisa berkata SABAR. Apa-apaan? Bisakah kalian sabar jika ada dalam posisiku? Bulshiit jika bisa.
            Jika dapat kusebutkan satu persatu tanpa memperhatikan siapa saja mereka sebenarnya dalam diriku? Dan apa saja peran mereka dalam hidupku? Mungkin sudah ku tuliskan besar-besar.
            Aku ini siapa? Aku butuh apa? inginku apa? Mauku apa? Maumu apa?
            Apa gunaku? Untuk apa aku ada?
            Hah?
            Untuk apa?
            Sial. Kau diam saja tak menjawab.
            Ketika orang yang sangat kau percaya hanya dapat berkata “sabar”?
            Apa-apaan?
            Gila. Sabar macam apalagi?
Aku memang pernah memiliki salah. Jangan maafkan. Tak usah maafkan. Tak penting. Aku tak pernah penting. Satu kali? Dua kali? Bahkan NOL BESAR kalipun tak pernah.
            Saat tiba-tiba tissue-mu habis untuk mengusap anak sungai dipipimu?
            Tengah malam!
            Kau masih terjaga, meski seharusnya jam 3 pagi besok ada rutinitas yang musti kau jalankan dan berbagai kegiatan disekolahmu serta ulangan-ulangan yang kau tak dapat kisi-kisinya karena hanya tersebar digrup kelasmu dan kau tidak tergabung karena tak memilikinya.
            Sialan!!!
            Kasus macam apalagi ini?
            Memang tak ada yang harus disalahkan. Dan bahkan tak ada yang mau disalahkan.
            Lebih sialan lagi.
            Biar saja aku gila. Biar saja batas sadarku hilang.
Biar saja. biar puas sekalian.
            Biar tak ada lagi harapan dalam hatiku agar kalian atau siapapun mengerti mengenai diriku.
            Ingat!
            Tak usah ceritakan apapun jika sama sekali tak mengerti bagaimana soal hatiku.
Ingat!
Tak usah bahas apapun jika tak tahu apa-apa mengenai diri yang kau jatuhkan ini.
Dan aku akan menjadi seorang yang terlahir baru......
Dengan batas sadar yang tidak sempurna.
Dengan batas sadar yang sudah mendekati gila.
Dengan pikiran yang tak semestinya.
Tapi, sebuah hati yang masih berfungsi dengan baik.
Mencintai seseorang yang mungkin akan membuatku semakin lebih tidak waras.
Biarlah......... aku gila saja.